Kamis, 05 Mei 2016

Matahari Dalam Al-Qur’an & Sains

Matahari dalam Bahasa Arab adalah الشمس. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia matahari diartikan sebagai suatu benda angkasa yang menjadi pusat tata surya yang berisi gas dan mendatangkan terang dan panas pada bumi saat siang hari. Matahari  sebagai pusat tata surya, Matahari juga merupakan sumber energi untuk kehidupan yang berkelanjutan. Nicolaus Copernicus adalah orang pertama yang mengemukakan teori bahwa Matahari adalah pusat peredaran tata surya pada abad 16. Teori ini kemudian dibuktikan oleh Galileo Galilei dan pengamat angkasa lainnya. Teori yang kemudian dikenal dengan nama heliosentrisme ini mematahkan teori geosentrisme (bumi sebagai pusat tata surya) yang dikemukakan oleh Ptolemeus.
           Bentuk dari matahari itu sendiri bulat dan terdiri dari plasma panas bercampur medan magnet. Diameternya sekitar 1.392.684 km, kira-kira 109 kali diameter Bumi, dan massanya (sekitar 2×1030 kilogram, 330.000 kali massa Bumi).
Adapun ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan penjelasan diatas yaitu:
1.   Surat al-Furqān ayat 61

"Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya (Al-Furqan : 61)"
2.   Surat Asy-Syams ayat 1-2.

"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya (Asy-Ayams :1-2)"


Beberapa ayat di atas memunculkan jawaban bahwa pengertian yang sifatnya sains di atas adalah benar yang sudah tercantum di dalam al-Qur’an. Dapat ditarik kesimpulan bahwa matahari adalah suatu benda yang berada di angkasa yang menjadi pusat tatat surya dan bisa menghasilkan panas. Pengertian ini sesuai dengan ayat - ayat Al-Qur'an diatas.






Referensi :

Rabu, 04 Mei 2016

Langit yang Mengembalikan

       Ayat ke-11 dari Surat Ath-Thariq dalam Al Qur’an, mengacu pada fungsi “mengembalikan” yang dimiliki langit.

 
“Demi langit yang mengandung hujan.” (Al Qur’an, 86:11)

            Kata yang ditafsirkan sebagai “mengandung hujan” dalam terjemahan Al Qur’an ini juga bermakna “mengirim kembali” atau “mengembalikan”. Sebagaimana diketahui, atmosfir yang melingkupi bumi terdiri dari sejumlah lapisan. Setiap lapisan memiliki peran penting bagi kehidupan. Penelitian mengungkapkan bahwa lapisan-lapisan ini memiliki fungsi mengembalikan benda-benda atau sinar yang mereka terima ke ruang angkasa atau ke arah bawah, yakni ke bumi. Sekarang, marilah kita cermati sejumlah contoh fungsi “pengembalian” dari lapisan-lapisan yang mengelilingi bumi tersebut. 

     Lapisan Troposfir, 13 hingga 15 km di atas permukaan bumi, memungkinkan uap air yang naik dari permukaan bumi menjadi terkumpul hingga jenuh dan turun kembali ke bumi sebagai hujan. 



     Lapisan ozon, pada ketinggian 25 km, memantulkan radiasi berbahaya dan sinar ultraviolet yang datang dari ruang angkasa dan mengembalikan keduanya ke ruang angkasa.
     Lonosfir, memantulkan kembali pancaran gelombang radio dari bumi ke berbagai belahan bumi lainnya, persis seperti satelit komunikasi pasif, sehingga memungkinkan komunikasi tanpa kabel, pemancaran siaran radio dan televisi pada jarak yang cukup jauh.
       Lapisan magnet memantulkan kembali partikel-partikel radioaktif berbahaya yang dipancarkan Matahari dan bintang-bintang lainnya ke ruang angkasa sebelum sampai ke Bumi.
Sifat lapisan-lapisan langit yang hanya dapat ditemukan secara ilmiah di masa kini tersebut, telah dinyatakan berabad-abad lalu dalam Al Qur’an. Ini sekali lagi membuktikan bahwa Al Qur’an adalah firman Allah.





Referensi :

Selasa, 03 Mei 2016

Besi Bukan Diciptakan di Bumi, Melainkan Langsung Diturunkan dari Langit


    Besi merupakan sejenis logam yang sangat berguna bagi kebutuhan manusia. Dan ternyata dalam al-Qur’an pun sudah dijelaskan. Asal mula besi juga sudah tertera dalam al-Qur’an. Kita mengetahui asal besi itu dari para ilmuan yang menelitinya. Padahal Allah telah menjelaskannya 1400 tahun yang lalu.
      Besi adalah salah satu unsur yang dinyatakan secara jelas dalam al-Qur’an. Dalam Surat al-Hadid, yang berarti “besi” kita diberitahu sebagai berikut: 
Surat Al-Hadid ayat 25
 “…Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia ….” (Al-Hadid, QS 57 : 25)
         Kata arsalnaa” yang berarti “kami turunkan” khusus digunakan untuk besi. Dalam ayat ini, dapat diartikan secara kiasan untuk menjelaskan bahwa besi diciptakan untuk memberi manfaat bagi manusia. Tapi ketika kita mempertimbangkan makna harfiah kata ini, yakni “secara bendawi diturunkan dari langit,” kita akan menyadari bahwa ayat ini memiliki keajaiban ilmiah yang sangat penting.
          Seorang ilmuwan terkenal yang menjadi pembicara dalam seminar ‘Mukjizat Ilmiah al-Qur’an al-Karim,’ DR Strogh yang juga begitu tersohor di kalangan Badan Antariksa Amerika, NASA mengatakan, “Kami telah melakukan berbagai penelitian terhadap sejumlah barang tambang bumi dan sejumlah penelitian laboratorium. Namun hanya satu jenis barang tambang yang sangat membingungkan para ilmuan, yaitu besi. Dari sisi kapasitasnya, besi memiliki bentuk (struktur) yang unik. Agar elektron-elektron dan nitron-nitron dapat menyatu dalam unsur besi maka ia butuh energi yang luar biasa mencapai 4 kali lebih besar dari total energi yang ada di planet matahari kita.”
         Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan dalam inti bintang-bintang raksasa. Akan tetapi sistem tata surya kita tidak memiliki struktur yang cocok untuk menghasilkan besi secara mandiri. Besi hanya dapat dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari, yang suhunya mencapai beberapa ratus juta derajat. Ketika jumlah besi telah melampaui batas tertentu dalam sebuah bintang, bintang tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, dan akhirnya meledak melalui peristiwa yang disebut “nova” atau “supernova.”    
        Akibat dari ledakan ini, meteor-meteor yang mengandung besi bertaburan di seluruh penjuru alam semesta dan mereka bergerak melalui ruang hampa hingga mengalami tarikan oleh gaya gravitasi benda angkasa. Semua ini menunjukkan bahwa logam besi tidak terbentuk di bumi melainkan kiriman dari bintang-bintang yang meledak di ruang angkasa melalui meteor-meteor dan “diturunkan ke bumi,” persis seperti dinyatakan dalam ayat tersebut.


Referensi :

Senin, 02 Mei 2016

Meteor Dalam Al-Qur'an


         Meteor disebut juga 'bintang beralih'. Meteor bukanlah bintang yang bergerak yang terletak jauh di angkasa luar melainkan sebuah fenomena yang terjadi dalam atmosfer bumi. Hal ini terjadi apabila sebuah benda yang bergerak cepat dari angkasa luar menembus atmosfer dan menjadi sedemikian panas karena gesekan atmosfer sehingga mulai berpijar dan kenapa di sebut hujan meteor? karena komet yang terdiri dari materi padat dan terdapat seperti es, mencair saat mendekati matahari dan jatuh di atmosfer bumi, bergesekan dan menimbulkan sinar terang di atas langit. Hal itu menyebabkan kelihatannya ada bintang yang jatuh dari langit. Namun apabila ini terjadi pada saat orbit bumi sedang beriringan dengan orbit komet, yang terlihat di langit adalah bintang yang jatuh tanpa henti dari sebuah titik pusat. Itulah yang disebuh hujan meteor yang merupakan rutuhan komet sebelumnya, karena sering ditemukan orbit hujan meteor sesuai denga orbit yang sudah dikenal sebelumnya. Ada beberapa ayat Al-Qur'an yang menyebutkan tentang meteor, hujan meteor, berikut diantaranya:


1. Surat Al-Hijr ayat 16-18

"Susungguhnya Aku telah menciptakan gugusan bintang (dilangit) dan Aku telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang-nya (16), Aku menjaganya dari setiap syaitan yang terkutuk,(17), kecuali syaitan yang mencurri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang(18)" (QS. Al-Hijr:16-18) 


2. Surat As-shaffat ayat 6-10
“Sesungguhnya Aku telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka, syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, Akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang terang. (QS. As-Shaffat: 6 – 10)
 
3. Surat Al-Jin ayat 8 - 9 (yang menjelaskan tentang kebiasaan jin yang mencuri berita dari langit)
“Sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (QS. Al-Jin: 8 – 9)
 
         Beberapa ayat di atas memberikan kesimpulan kepada kita bahwa meteor yang disebut hujan meteor atau bintang jatuh, yang kita saksikan sebagai fenomena langit itu, sejatinya adalah benda langit yang digunakan untuk melempar setan, yang mencoba mencuri berita dari langit






Referensi
http://www.eramuslim.com/peradaban/quran-sunnah/meteor-itu-panah-api-pengusir-syaitan-yang-mencuri-berita-langit.htm 
https://astriyaniastuti.wordpress.com/2009/07/27/meteor-dalam-al-quran/